LAPORAN AKSI NYATA MODUL 1.4 PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI SDN KARANGMALANG 1 MASARAN

 

LAPORAN AKSI NYATA MODUL 1.4

PENERAPAN BUDAYA POSITIF

DI SDN KARANGMALANG 1 MASARAN

 

  

OLEH :

IHDA KHUSNAYAINI, S.Pd.

CGP ANGKATAN 4

 KABUPATEN SRAGEN

 

A.          Latar Belakang

KHD membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan  Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan.  Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk  kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi  tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai  keselamatan dan kebahagiaan yang setinggitingginya baik sebagai seorang manusia  maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD (2009), “pendidikan dan  pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup  manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”. Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD  memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka  pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi  ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau  diwariskan. Maksud pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat. Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada  anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya  kekuatan kodrat anak. Guru seperti seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang  pendidik) yang menanam jagung misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya jagung, ia  dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman jagung, memberi pupuk dan air,  membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain  sebagainya. Budi pekerti, watak, karakter adalah bersatunya (perpaduan harmonis) antara gerak  pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga/semangat. Bermain adalah kodrat anak, Pikiran-Perasaan-Kemauan-Tenaga (Cipta-Karsa-Karya-Pekerti)  sudah ada pada diri anak, dan permainan anak dapat menjadi bagian pembelajaran di  sekolah. Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta  sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak. Pokoknya pendidikan harus  terletak di dalam pangkuan ibu bapak karena hanya dua orang inilah yang dapat “berhamba pada sang anak” dengan semurni-murninya dan seikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya  kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas. Berdasarkan pemikiran di atas, maka saya ingin mengimplementasikan Budaya Positif di  sekolah tempat saya bertugas yaitu di SDN Karangmalang 1 Masaran.

B.           Deskripsi Aksi Nyata

Aksi nyata ini akan saya terapkan di kelas 3 yang saya ajar. Adapun kegiatan aksi nyata akan saya fokuskan pada budaya positif dan keyakinan kelas dalam proses pembelajaran di kelas. Budaya positif ini disusun bersama antara guru kelas dengan guru mapel Agama. Sedangkan, untuk keyakinan kelas disusun oleh guru Bersama dengan murid. Murid sendiri yang menentukan dibantu dengan arahan guru. Murid diarahkan untuk  memunculkan usulan, ide, dan gagasannya tentang bagaimana mewujudkan kelas yang  nyaman, sekaligus disiplin, dan mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. Kegiatan  yang saya lakukan adalah dengan bertanya, bagaimana bentuk dan isi kegiatan dalam  kelas yang murid inginkan.

C.          Hasil Aksi Nyata

  •  Murid disiplin dalam mengikuti pembelajaran, tetapi tetap nyaman dan merasa  aman.
  • Murid menunjukkan sikap religius dengan selalu rajin berdoa dan murojaah pagi setiap akan memulai kegiatan belajar.
  • Murid menunjukkan sikap saling menghargai dan sopan.
  • Murid menunjukkan sikap tidak membeda-bedakan (suku, agama, RAS, ciri fisik, gender, dll) serta saling membantu dalam kebaikan.
  •  Murid bersegera mengumpulkan tugas sesuai waktu yang ditentukan.
  • Poster Kesepakatan Kelas tentang Budaya Positif diupload di WA grup dan Ruang  kelas.
  •  Poster menjadi sarana membentuk Budaya Disiplin yang disepakai seluruh murid  dalam kelas.

D.          Pembelajaran Yang Didapat Dari Pelaksanaan

Ukuran keberhasilan dalam Aksi Nyata ini adalah jika minimal 75% murid telah  menunjukkan budaya positif sesuai kesepakatan kelas yang telah disusun bersama. Setiap pelanggaran yang terjadi akan dibuat catatan untuk refleksi dalam implementasi dan  penguatan budaya positifnya. Kendala yang masih terjadi adalah, murid mudah terpengaruh sesama teman dan  lingkungan keluarga, sehingga budaya disiplin positif yang dibentuk seringkali harus dimulai dari awal lagi, dan sering mengingatkan murid.

E.            Rencana Perbaikan untuk Pelaksanaan di Masa Mendatang

Setiap 3 bulan, butir-butir kesepakatan kelas sebagai acuan pembentukan budaya positif  akan dievaluasi dan diperbaiki. Jika item budaya positif sudah membudaya, maka diganti  dengan item lainnya, sehingga akan semakin banyak item-item budaya positif yang dapat  ditumbuhkan pada murid. Koordinasi atau kolaborasi dengan orang tua dan guru mapel  tampaknya juga penting dilakukan, agar penanaman budaya positif lebih cepat terbentuk serta terawat.

F.           Dokumentasi Proses dan Hasil Pelaksanaan

Foto : Solat Dhuha Berjamaah
 
Foto : Solat Dhuha Berjamaah


Foto : Solat Dhuha Berjamaah

Foto : Berkolaborasi dengan Guru Mapel untuk membuat program

Foto: Sosialisasi Program Kelas

Foto: Murojaah Pagi


Foto: Keyakinan Kelas



*Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca. Salam Guru Penggerak

Komentar